MATAINDONESIA.CO.ID, Jakarta – Otoritas keamanan Iran menangkap puluhan orang, termasuk seorang warga negara asing, karena dugaan aktivitas spionase untuk Amerika Serikat (AS) dan Israel. Langkah tegas ini muncul sebagai respons atas meningkatnya ketegangan militer antara Teheran dengan Washington dan Tel Aviv. Kementerian Intelijen Iran menuduh warga asing tersebut bertindak sebagai agen intelijen sekaligus perantara bagi dua negara di kawasan Teluk, meskipun pemerintah masih merahasiakan identitas maupun kewarganegaraan sang terduga.
Pembersihan Jaringan Intelijen Asing
Media setempat melaporkan bahwa aparat keamanan telah meringkus sekitar 30 orang yang diduga tergabung dalam jaringan intelijen asing dalam beberapa hari terakhir. Kementerian terkait menjelaskan bahwa kelompok ini terdiri dari mata-mata, tentara bayaran internal, hingga agen operasional yang bekerja secara rahasia demi kepentingan Amerika Serikat dan Israel. Selain itu, Kepala Kepolisian Iran, Ahmadreza Radan, mengonfirmasi penahanan 81 orang lainnya yang dituduh membocorkan informasi internal kepada media asing serta pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh negara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kontroversi Penangkapan dan Tekanan Politik
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memang sering kali menangkap warga asing maupun warga berkewarganegaraan ganda atas tuduhan pelanggaran keamanan nasional. Namun, sejumlah kelompok hak asasi manusia menuding Teheran kerap menggunakan penangkapan tersebut sebagai alat tawar atau tekanan politik terhadap negara-negara Barat. Pemerintah Iran membantah keras tuduhan tersebut dan bersikeras bahwa setiap tindakan hukum yang mereka ambil sepenuhnya berlandaskan pada bukti pelanggaran undang-undang keamanan nasional yang sah.
Dampak Eskalasi Serangan Udara
Gelombang penangkapan ini terjadi di tengah situasi perang yang kian membara setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran. Teheran langsung membalas aksi tersebut dengan menyerang sejumlah negara yang menjadi sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Situasi ini menciptakan ketidakpastian keamanan di wilayah tersebut, di mana aksi saling balas serangan udara kini merembet ke perburuan agen-agen rahasia di dalam negeri.












