MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan militer besar-besaran terhadap wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat. Serangan itu dilaporkan menyerang sejumlah target strategis termasuk kompleks kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang dinyatakan tewas dalam serangan tersebut oleh pemerintah Iran. Kematian Khamenei – sosok paling berkuasa di Republik Islam selama hampir empat dekade – memicu guncangan politik dan militer yang luas di seluruh kawasan.
Serangan udara gabungan itu, yang melibatkan rudal presisi dan serangan jet tempur, juga menyebabkan ratusan korban sipil serta pejabat militer tinggi Iran tewas. Laporan media menyebut lebih dari 200 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka, termasuk pangkalan militer serta infrastruktur penting di Teheran dan sekitarnya.
Balas Dendam Iran Meluas ke Israel & Pangkalan AS
Tak berselang lama setelah serangan pertama, Iran meluncurkan gelombang serangan balasan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di beberapa negara Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan operasi balasan mereka diarahkan ke sejumlah titik strategis, termasuk markas besar militer Israel di Tel Aviv dan pangkalan udara Tel Nof. Serangan ini memicu sirene serangan udara di wilayah Israel dan menelan korban luka di beberapa kota besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dampak Regional: Ketegangan di Wilayah Tetangga
Konflik ini tak lagi terbatas di perbatasan Iran–Israel saja. Negara-negara Timur Tengah lain seperti Bahrain, Qatar dan Uni Emirat Arab dilaporkan mengalami efek terdampak karena kehadiran pangkalan atau aset militer AS di kawasan. Ketegangan diplomatik juga meningkat secara signifikan, dengan China mengecam serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan Iran dan mengutuk tindakan militer yang menewaskan Khamenei.
AS Tetap Pakai AI Militer Meski Ada Larangan
Di samping konflik konvensional, peristiwa ini juga menandai fase baru dalam penggunaan teknologi canggih di medan perang. Meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya memerintahkan semua lembaga federal menghentikan penggunaan teknologi AI dari startup Anthropic karena perselisihan kebijakan dan keamanan, militer AS tetap menggunakan AI tersebut dalam operasi itu untuk bantuan intelijen dan penentuan target. Laporan media internasional menyatakan model AI Claude dari Anthropic dipakai dalam perencanaan dan penilaian serangan terhadap Iran, meski ada kontroversi kapan dan bagaimana teknologi itu digunakan.
Perselisihan itu telah menyebabkan bentrokan tajam antara pihak pemerintahan AS dan perusahaan pembuat AI — sebuah drama baru yang mencerminkan kompleksitas etika, teknologi, dan strategi modern dalam peperangan.
Respons Dunia & Dampak Global
Serangan terhadap Iran dan balasan yang intens telah memicu reaksi internasional luas dan kekhawatiran tentang eskalasi ke skala perang regional atau global. Perdagangan minyak dunia berguncang, harga komoditas naik, dan berbagai negara menyerukan gencatan senjata serta dialog diplomatik secepatnya untuk mencegah konflik melebar lebih jauh.












