MATAINDONESIA.CO.ID, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran menterinya segera merancang langkah taktis untuk menghemat konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Instruksi ini muncul sebagai respons proaktif pemerintah dalam menghadapi potensi lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara (13/3), Presiden menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terlena dengan kondisi saat ini dan harus segera mengambil tindakan nyata guna menekan penggunaan energi nasional.
Mengadopsi Strategi Penghematan Global
Sebagai bahan referensi, Presiden Prabowo merujuk pada kebijakan ekstrem yang Pakistan terapkan untuk menjaga stabilitas ekonominya. Langkah-langkah tersebut mencakup penerapan sistem Work From Home (WFH) bagi 50 persen pegawai, pengurangan hari kerja menjadi empat hari, hingga pembatasan ketat penggunaan kendaraan dinas. Bahkan, Presiden menyoroti keberanian Pakistan memotong gaji anggota kabinet dan parlemen untuk dialihkan menjadi bantuan sosial bagi kelompok masyarakat yang paling rentan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Efisiensi Anggaran dan WFH sebagai Solusi
Presiden mendorong pengkajian kebijakan serupa di Indonesia, termasuk kemungkinan ASN dan pejabat negara bekerja dari rumah untuk mengurangi kemacetan sekaligus menghemat energi secara besar-besaran. Selain itu, pemerintah berencana menghentikan sementara belanja barang operasional dan membatasi kunjungan kerja di seluruh lembaga. Presiden meyakini bahwa efisiensi anggaran yang ketat akan menjaga keseimbangan APBN dan memperkuat kondisi fiskal nasional dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Visi Fiskal dan Kewaspadaan Geopolitik
Melalui penghematan konsumsi energi ini, Presiden berharap Indonesia dapat menekan angka defisit anggaran seminimal mungkin, bahkan mencita-citakan anggaran negara tanpa defisit di masa depan. Meskipun ia meminta jajarannya tetap waspada terhadap ramalan perang panjang di Timur Tengah, Presiden mengimbau agar pemerintah tidak bersikap panik. Ia menegaskan bahwa langkah-langkah antisipasi ini murni bertujuan untuk membangun kekuatan ekonomi nasional yang lebih mandiri dan tangguh menghadapi skenario terburuk di kancah global.












