MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kembali menunjukkan eskalasi dampak kemanusiaan yang mengkhawatirkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia telah meningkat menjadi 810 jiwa hingga Rabu (3/12) sore. Sementara itu, 612 orang lainnya masih dinyatakan hilang di tiga provinsi terdampak.
Rincian terbaru mencatat Aceh sebagai wilayah dengan korban meninggal terbanyak, yaitu 272 orang, serta 193 orang hilang. Di Sumatra Utara, angka korban jiwa mencapai 297 orang dengan 159 orang belum ditemukan. Adapun di Sumatra Barat, tercatat 236 korban meninggal dan 260 warga masih hilang akibat intensitas banjir dan longsor yang terus berulang.
Selain itu, sedikitnya 2.600 warga mengalami luka-luka, sementara total populasi terdampak mencapai 3,2 juta jiwa, menjadikan bencana ini salah satu yang terbesar dalam satu dekade terakhir di wilayah Sumatera.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah tingginya angka korban dan desakan publik, pemerintah belum menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional. Namun demikian, pemerintah memastikan bahwa penanganan dilakukan dengan skala nasional.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno, menegaskan bahwa Presiden Prabowo telah memerintahkan seluruh kementerian dan lembaga, termasuk TNI–Polri dan BNPB, untuk mengerahkan seluruh sumber daya tanpa kecuali.
“Seluruh kementerian/lembaga diperintahkan oleh Bapak Presiden untuk mengerahkan kekuatan secara maksimal. Penanganannya dilakukan dengan penuh kekuatan nasional,” ujar Pratikno di Lanud Halim Perdanakusuma, Rabu (3/12).
Seiring terus bertambahnya korban dan meluasnya wilayah terdampak, pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh unsur penanggulangan bencana kini bergerak dalam operasi terpadu, mulai dari pencarian korban hilang, distribusi logistik, penanganan kesehatan, hingga pembukaan akses ke wilayah terisolasi.












