MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Sebuah momen memilukan mewarnai upaya pencarian korban longsor di Sibolga, Sumatera Utara. Seorang anggota Brimob Polda Sumut disebut menemukan bahwa jenazah wanita lansia yang berhasil dievakuasi tim ternyata adalah ibu kandungnya sendiri. Peristiwa ini pertama kali viral melalui unggahan Instagram @brimobpoldasumut yang menampilkan video proses pencarian di lokasi terdampak bencana.
Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa meski dihantam duka mendalam, para personel Brimob tetap menjalankan tugas dengan keteguhan, penuh hormat, dan solidaritas. Evakuasi jenazah dilakukan bak keluarga sendiri—sebuah potret nyata tentang pengabdian yang melampaui batas profesionalitas.
“Brimob kembali menunjukkan bahwa mereka selalu hadir untuk rakyat, bahkan ketika duka mengetuk pintu keluarga sendiri,” demikian tulis akun resmi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bencana Besar di Sumatera: Ratusan Meninggal, Ratusan Hilang
Peristiwa memilukan ini terjadi di tengah salah satu bencana terbesar yang menimpa Indonesia tahun ini. Data terbaru BNPB, Selasa (2/12/2025), mencatat:
-
604 orang meninggal dunia,
-
464 orang dinyatakan hilang,
-
2.600 orang terluka,
-
1,5 juta jiwa terdampak,
-
570.700 orang mengungsi di 50 kabupaten/kota,
-
3.500 rumah rusak berat,
-
4.100 rusak sedang,
-
20.500 rusak ringan,
-
282 fasilitas pendidikan rusak,
-
271 jembatan rusak.
Bencana banjir dan longsor ini melanda kawasan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menyisakan kerusakan masif dan dampak kemanusiaan yang sangat besar.
Presiden RI Prabowo Subianto turut meninjau langsung wilayah terdampak di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Senin (1/12). Dalam kunjungannya, Prabowo memastikan bahwa pasokan bantuan, listrik, serta akses logistik terus dipulihkan secara bertahap.
“Alhamdulillah cuaca membaik, bantuan sudah banyak yang sampai. Listrik di Sumatera Barat sudah hampir 100 persen,” ujarnya.
Presiden juga menginstruksikan percepatan pemulihan infrastruktur penting, termasuk akses air bersih, jembatan, dan fasilitas publik, sembari memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi.
Tragedi yang menimpa personel Brimob tersebut menjadi simbol kuat dedikasi aparat dalam tanggap bencana. Meski kehilangan salah satu anggota keluarga dalam bencana yang sama, tugas kemanusiaan tetap dijalankan tanpa menunda panggilan tanggung jawab.
Momen ini menyentuh publik dan menjadi pengingat bahwa para petugas di lapangan tidak hanya menghadapi risiko fisik, tetapi juga beban emosional yang sangat besar.













