MATAINDONESIA.CO.ID, Jakarta – Bareskrim Polri berhasil membekuk dua orang yang membantu pelarian bandar narkoba Erwin Iskandar alias Koh Erwin. Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, menjelaskan bahwa Koh Erwin mencoba kabur ke luar negeri sesaat setelah kasus setoran uangnya kepada eks Kapolres Bima Kota, AKBP Didik Putra Kuncoro, terbongkar. Koh Erwin berupaya menghindari proses hukum dengan mencari perlindungan di negara tetangga.
Tim gabungan Subdit IV dan Satgas NIC segera bergerak memantau pihak-pihak yang memfasilitasi pelarian tersebut, termasuk memeriksa istri Erwin. Melalui analisis IT, penyidik menemukan jejak Akhsan al Fadhli alias Genda yang tengah menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Tanjung Balai, Sumatera Utara, untuk menyusul Erwin.
Penyidik kemudian menginterogasi Akhsan dan mengungkap rencana Erwin menyeberang ke Malaysia lewat jalur laut ilegal. Erwin kabarnya telah menghubungi seseorang untuk menyiapkan kapal. Berbekal informasi ini, tim menangkap Rusdianto alias Kumis yang berperan sebagai fasilitator penyeberangan. Rusdianto mengaku menerima perintah dari sosok misterius berjuluk “The Docter” untuk mengatur pelarian tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Demi mempercepat keberangkatan, Rusdianto menghubungi penyedia kapal bernama Rahmat. Ia kemudian mengantarkan Erwin ke titik keberangkatan di Tanjung Balai dan membayar biaya sewa kapal tradisional sebesar Rp7 juta. Berkat pengaturan tersebut, Erwin sempat berangkat menuju Malaysia melalui jalur tikus.
Meski sempat berupaya kabur, pelarian Erwin berakhir di Tanjung Balai. Kasubdit IV Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Kombes Handik Zusen, menyebut petugas terpaksa melakukan tindakan tegas dan terukur karena Erwin melawan saat akan ditangkap.
Koh Erwin tiba di gedung Bareskrim Polri pada Jumat (27/2) pukul 11.35 WIB dengan pengawalan ketat. Mengenakan baju abu-abu, dua petugas tampak memapah sang bandar narkoba masuk ke ruang pemeriksaan. Penyidik kini memeriksa Erwin secara intensif terkait jaringan narkobanya dan skandal suap yang melibatkan perwira polisi.












