“Banjir Maut Hat Yai Guncang Thailand: 176 Tewas, Pemerintah Copot Pejabat dan Akui Kegagalan Sistem Peringatan Dini”

- Editorial Team

Rabu, 3 Desember 2025 - 02:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banjir di Thailand (Sumber: Kompas.com)

Banjir di Thailand (Sumber: Kompas.com)

MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Gelombang banjir dahsyat yang menghantam wilayah selatan Thailand akhir pekan lalu meninggalkan luka yang belum terukur dalamnya. Di kota Hat Yai, Provinsi Songkhla, air bah menerjang tiba-tiba, menyapu rumah-rumah warga dan menenggelamkan harapan banyak keluarga. Sebanyak 176 orang dilaporkan tewas, menjadikannya salah satu bencana paling mematikan di negara Gajah Putih dalam satu dekade terakhir.

Tekanan publik pun membuncah. Pemerintah pusat di bawah Perdana Menteri Anutin Charnvirakul bergerak cepat, mencopot Bupati Hat Yai serta memindahkan Kepala Polisi setempat. Dua pejabat itu dinilai paling bertanggung jawab atas buruknya manajemen bencana dan minimnya sistem peringatan bagi masyarakat.

Menurut laporan Reuters, warga tidak menerima informasi yang memadai ketika curah hujan meningkat drastis dan air naik secara tiba-tiba. Banyak keluarga terjebak di dalam rumah tanpa kesempatan untuk menyelamatkan diri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Warga tidak menerima peringatan yang jelas dari pihak berwenang setempat… membuat banyak orang terjebak di dalam rumah mereka,” tulis laporan tersebut.

Dalam pernyataan resmi, PM Anutin menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat Thailand. Ia mengakui adanya kegagalan pemerintah daerah dalam melindungi masyarakat serta kekurangan dalam sistem mitigasi bencana.

“Kami meminta maaf. Negara bagian gagal melindungi masyarakat,” ujar Anutin, menegaskan komitmen pemerintah untuk melakukan perubahan.

Pemerintah pusat segera menyiapkan paket dukungan bagi para korban. Delegasi khusus dikirim untuk meninjau langsung lokasi banjir, memastikan langkah-langkah pemulihan dapat berjalan cepat dan tepat.

Anutin menambahkan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan sebesar 9.000 baht (sekitar Rp 4,5 juta) untuk setiap rumah tangga terdampak. Dana tersebut dijanjikan akan cair minggu depan sebagai bantuan awal untuk pemulihan warga.

Selain faktor cuaca ekstrem, PM Anutin menekankan bahwa karakter geografis “cekungan” Songkhla, terutama distrik Hat Yai, membuat wilayah itu sangat rentan. Sistem jalan yang tidak optimal dalam menyalurkan air dan lemahnya protokol peringatan evakuasi memperparah keadaan.

“Hat Yai membutuhkan desain jalan baru untuk meningkatkan drainase, serta peringatan evakuasi yang jauh lebih ketat,” jelasnya, dikutip Bangkok Post.

Tragedi ini menjadi alarm keras bagi Thailand: bahwa perubahan iklim dan tata kelola ruang yang tidak adaptif dapat melipatgandakan risiko bencana. Banjir Hat Yai bukan hanya krisis kemanusiaan, tetapi juga panggilan untuk introspeksi nasional.

Di tengah duka ratusan keluarga, solidaritas dari seluruh penjuru Thailand terus mengalir. Relawan, komunitas lokal, dan lembaga kemanusiaan bergerak serempak untuk membantu evakuasi, distribusi logistik, hingga dukungan psikososial.

Pemerintah Thailand kini berada pada titik balik—diuji oleh bencana, ditantang untuk bergerak lebih cepat, lebih tegas, dan lebih manusiawi. Dunia menanti bagaimana negara ini akan memperbaiki sistemnya setelah salah satu banjir paling mematikan dalam sejarah modernnya.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kasus Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras di Ancol Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya
Wajib Dikembalikan: SPPG Lalai Bakal Diinvestigasi
Heboh Dugaan Ketidaksesuaian Awak Kapal di Selat Makassar, Mahasiswa Sulbar Desak Pemeriksaan Menyeluruh
Tangis Anak di Hadapan Jenazah Ayahnya, Palpasi Indonesia: Hentikan Kekerasan dan Benahi Penegakan Hukum
DPRD Majene Dorong Kejelasan Jadwal dan Anggaran Lomba Sandeq 2026
Dorong Penurunan Stunting, Pemkab Majene Salurkan Bantuan Stimulan Bagi Keluarga Rawan
Menjaga Kelas Menengah, Menjaga Mesin Ekonomi Indonesia
Empat Mahasiswa Unsulbar Dituntut 8 Bulan Pidana Pengawasan Kasus Pengrusakan Gedung DPRD Majene

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:56 WIB

Demonstrasi BEM UI di Sudirman Diwarnai Aksi Saling Dorong, Usung 8 Tuntutan Kemerdekaan

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:53 WIB

Peringatan HUT ke-81 RI: Presiden Prabowo Pimpin Hening Cipta untuk Pahlawan dan Korban Bencana

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:00 WIB

Kasus Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras di Ancol Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya

Jumat, 14 Agustus 2026 - 18:55 WIB

Wajib Dikembalikan: SPPG Lalai Bakal Diinvestigasi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:00 WIB

PERNYATAAN SIKAP LBH PP GP ANSOR Terhadap Aksi Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:18 WIB

Diduga Korupsi Kuota Haji, Mantan Stafsus Menag Gus Alex Didakwa Peroleh Rp 93,6 Miliar

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:08 WIB

Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Kejagung Ekstra Hati-Hati Buka Suara

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:01 WIB

Kejagung Usut Kasus Korupsi MBG di BGN, 12 Saksi Termasuk Sekretaris Kepala Diperiksa

Berita Terbaru

Kepala BGN Baru (Sumber: Afu.id)

Nasional

Wajib Dikembalikan: SPPG Lalai Bakal Diinvestigasi

Jumat, 14 Agu 2026 - 18:55 WIB