MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Gelombang banjir dahsyat yang menghantam wilayah selatan Thailand akhir pekan lalu meninggalkan luka yang belum terukur dalamnya. Di kota Hat Yai, Provinsi Songkhla, air bah menerjang tiba-tiba, menyapu rumah-rumah warga dan menenggelamkan harapan banyak keluarga. Sebanyak 176 orang dilaporkan tewas, menjadikannya salah satu bencana paling mematikan di negara Gajah Putih dalam satu dekade terakhir.
Tekanan publik pun membuncah. Pemerintah pusat di bawah Perdana Menteri Anutin Charnvirakul bergerak cepat, mencopot Bupati Hat Yai serta memindahkan Kepala Polisi setempat. Dua pejabat itu dinilai paling bertanggung jawab atas buruknya manajemen bencana dan minimnya sistem peringatan bagi masyarakat.
Menurut laporan Reuters, warga tidak menerima informasi yang memadai ketika curah hujan meningkat drastis dan air naik secara tiba-tiba. Banyak keluarga terjebak di dalam rumah tanpa kesempatan untuk menyelamatkan diri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Warga tidak menerima peringatan yang jelas dari pihak berwenang setempat… membuat banyak orang terjebak di dalam rumah mereka,” tulis laporan tersebut.
Dalam pernyataan resmi, PM Anutin menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat Thailand. Ia mengakui adanya kegagalan pemerintah daerah dalam melindungi masyarakat serta kekurangan dalam sistem mitigasi bencana.
“Kami meminta maaf. Negara bagian gagal melindungi masyarakat,” ujar Anutin, menegaskan komitmen pemerintah untuk melakukan perubahan.
Pemerintah pusat segera menyiapkan paket dukungan bagi para korban. Delegasi khusus dikirim untuk meninjau langsung lokasi banjir, memastikan langkah-langkah pemulihan dapat berjalan cepat dan tepat.
Anutin menambahkan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan sebesar 9.000 baht (sekitar Rp 4,5 juta) untuk setiap rumah tangga terdampak. Dana tersebut dijanjikan akan cair minggu depan sebagai bantuan awal untuk pemulihan warga.
Selain faktor cuaca ekstrem, PM Anutin menekankan bahwa karakter geografis “cekungan” Songkhla, terutama distrik Hat Yai, membuat wilayah itu sangat rentan. Sistem jalan yang tidak optimal dalam menyalurkan air dan lemahnya protokol peringatan evakuasi memperparah keadaan.
“Hat Yai membutuhkan desain jalan baru untuk meningkatkan drainase, serta peringatan evakuasi yang jauh lebih ketat,” jelasnya, dikutip Bangkok Post.
Tragedi ini menjadi alarm keras bagi Thailand: bahwa perubahan iklim dan tata kelola ruang yang tidak adaptif dapat melipatgandakan risiko bencana. Banjir Hat Yai bukan hanya krisis kemanusiaan, tetapi juga panggilan untuk introspeksi nasional.
Di tengah duka ratusan keluarga, solidaritas dari seluruh penjuru Thailand terus mengalir. Relawan, komunitas lokal, dan lembaga kemanusiaan bergerak serempak untuk membantu evakuasi, distribusi logistik, hingga dukungan psikososial.
Pemerintah Thailand kini berada pada titik balik—diuji oleh bencana, ditantang untuk bergerak lebih cepat, lebih tegas, dan lebih manusiawi. Dunia menanti bagaimana negara ini akan memperbaiki sistemnya setelah salah satu banjir paling mematikan dalam sejarah modernnya.












