Sawit Papua Mengemuka, Amnesty Sentil Prabowo: Presiden atau Direktur Perusahaan Sawit?

- Editorial Team

Kamis, 18 Desember 2025 - 15:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Rencana Presiden Prabowo Subianto membuka peluang pengembangan perkebunan kelapa sawit di Papua kembali memantik polemik. Isu ini tak lagi sekadar soal ekonomi dan bioenergi, tetapi menyentuh langsung lingkungan hidup dan hak masyarakat adat. Amnesty International Indonesia angkat suara dan menilai arah kebijakan ini sarat risiko ekologis dan kepentingan bisnis.

Presiden Prabowo sebelumnya mendorong pemanfaatan sumber daya lokal Papua untuk menopang ketahanan energi nasional. Sawit digadang-gadang sebagai solusi strategis untuk memperkuat bioenergi dan menekan impor BBM. Namun bagi Amnesty, narasi tersebut mengabaikan jejak panjang kerusakan lingkungan akibat ekspansi sawit di berbagai daerah.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai pernyataan Presiden sepanjang tahun menunjukkan pola yang kontradiktif. Pemerintah, kata dia, mendorong perluasan lahan sawit sejak awal tahun sembari meremehkan ancaman deforestasi. Ironisnya, bencana ekologis justru menutup tahun di sejumlah wilayah Sumatera.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Awal tahun meminta tambah lahan sawit dan mengatakan tidak perlu takut deforestasi. Akhir tahun, Sumatera diterjang bencana ekologis. Ini seperti lupa bahwa pembabatan hutan selalu membawa dampak serius bagi lingkungan dan manusia,” ujar Usman dalam keterangan tertulis, Kamis (18/12).

Amnesty menegaskan, berbagai kajian masyarakat sipil dan pakar lingkungan telah lama membuktikan korelasi kuat antara kerusakan hutan dan meningkatnya bencana ekologis. Perubahan tata guna lahan akibat perkebunan skala besar dinilai memperparah dampak krisis iklim. Karena itu, menjadikan Papua sebagai target baru ekspansi sawit disebut sebagai langkah mundur.

Papua, menurut Amnesty, bukan lahan kosong yang siap dieksploitasi. Wilayah ini merupakan benteng terakhir hutan hujan tropis dunia, sejajar dengan Amazon dan Cekungan Kongo, yang berperan penting bagi keseimbangan iklim global.

“Ketika Papua diminta ditanami sawit, muncul pertanyaan serius: ini suara Presiden Republik Indonesia, atau justru terdengar seperti suara Presiden Direktur perusahaan sawit?” tegas Usman.

Ia mengingatkan, hutan Papua menyimpan nilai ekologis, sosial, dan budaya yang tak tergantikan. Kawasan tersebut menjadi ruang hidup masyarakat adat yang menjaga alam melalui kearifan lokal. Amnesty menilai, tanpa perlindungan ketat, ekspansi sawit berpotensi memicu konflik agraria, pelanggaran hak adat, dan kerusakan lingkungan permanen.

Wacana penanaman sawit di Papua disampaikan Presiden Prabowo dalam pertemuan bersama para kepala daerah Papua di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/12). Dalam forum itu, Presiden menekankan peran sawit untuk mendukung bioenergi dan kemandirian energi nasional.

Namun Amnesty mengingatkan, pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan hutan terakhir Indonesia dan hak masyarakat adat. Di tengah krisis iklim yang kian nyata, kebijakan hari ini akan menjadi warisan ekologis atau bencana bagi generasi mendatang.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pelayanan Sertifikasi Halal On The Spot Semarakkan “Maradika Ramadhan QRIS UMKM Baik” di Polewali Mandar
Launching Pasar Takjil Desa Palipi Soreang, Wardin Wahid: “Kita ingin menggerakkan UMKM yang ada di Desa”
Pemerintah Siapkan Rp 55 Triliun untuk THR ASN, TNI, dan Polri pada 2026
Desak RUU Perampasan Aset, Wapres Gibran: Koruptor Harus Dimiskinkan
Musrenbang Banggae 2026: H. Abdul Wahab, S.H Tekankan Prioritas Nyata dan Konsistensi Usulan Desa
Prabowo–Apindo Bertemu di Hambalang, Dorong Kolaborasi “Indonesia Incorporated” dan Perluasan Industri Padat Karya
Dewan Pers Tegas ke Pengembang AI: Gunakan Karya Jurnalistik Wajib Bayar Royalti
LPH Pusat Halal Insan Kamil Gelar Pelatihan Juru Sembelih Halal di Pangkep

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:56 WIB

Demonstrasi BEM UI di Sudirman Diwarnai Aksi Saling Dorong, Usung 8 Tuntutan Kemerdekaan

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:53 WIB

Peringatan HUT ke-81 RI: Presiden Prabowo Pimpin Hening Cipta untuk Pahlawan dan Korban Bencana

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:00 WIB

Kasus Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras di Ancol Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya

Jumat, 14 Agustus 2026 - 18:55 WIB

Wajib Dikembalikan: SPPG Lalai Bakal Diinvestigasi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:00 WIB

PERNYATAAN SIKAP LBH PP GP ANSOR Terhadap Aksi Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:18 WIB

Diduga Korupsi Kuota Haji, Mantan Stafsus Menag Gus Alex Didakwa Peroleh Rp 93,6 Miliar

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:08 WIB

Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Kejagung Ekstra Hati-Hati Buka Suara

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:01 WIB

Kejagung Usut Kasus Korupsi MBG di BGN, 12 Saksi Termasuk Sekretaris Kepala Diperiksa

Berita Terbaru

Kepala BGN Baru (Sumber: Afu.id)

Nasional

Wajib Dikembalikan: SPPG Lalai Bakal Diinvestigasi

Jumat, 14 Agu 2026 - 18:55 WIB