MATAINDONESIA.CO.ID, MEDAN – Gejolak internal Partai Golkar Sumatra Utara kian memanas. Pencopotan Musa Rajekshah (Ijeck) dari jabatan Ketua DPD Golkar Sumut memicu tudingan keras dan terbuka dari internal partai sendiri. Wakil Ketua Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM DPD Golkar Sumut, Riza Fakhrumi Tahir, melontarkan tuduhan paling frontal: ada tiga pengkhianat di tubuh Golkar pusat.
Tiga nama yang dituding Riza bukan figur sembarangan: Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia, Sekjen Muhammad Sarmuji, dan Wakil Ketua Umum Ahmad Doli Kurnia Tandjung.
“Bahlil, Sarmuji, dan Doli adalah pengkhianat Golkar. Mereka tidak lagi bekerja untuk kepentingan Golkar, tetapi melayani kepentingan partai lain. Mereka tidak layak berada di puncak pimpinan,” tegas Riza kepada wartawan, Sabtu (20/12/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Riza menilai pencopotan Ijeck bukan keputusan organisasi yang murni, melainkan pesanan politik tingkat tinggi. Ia bahkan menyeret nama mantan Presiden RI Joko Widodo, yang disebut-sebut memiliki kepentingan langsung terkait masa depan politik menantunya, Bobby Nasution.
Menurut Riza, Ijeck selama ini menjadi figur kunci yang membuat Golkar sangat kuat di Sumut—baik di Pemilu Legislatif maupun Pilgub. Karena itu, satu-satunya cara untuk melemahkan Golkar adalah dengan menyingkirkan Ijeck lebih dulu.
“Ijeck dengan Golkar adalah instrumen demokrasi yang terbukti kuat dan sulit dikalahkan. Maka satu-satunya cara melemahkan Golkar adalah menyingkirkan Ijeck, lalu menggantinya dengan figur lemah yang bisa dijadikan boneka,” katanya.
Riza juga menyebut nama Hendrianto Sitorus sebagai calon Ketua Golkar Sumut yang disebut-sebut merupakan figur titipan Bobby Nasution. Ia menilai skenario ini bukan hanya soal Sumatra Utara, melainkan bagian dari agenda besar pelemahan Golkar secara nasional.
“Ini bukan hanya soal Sumut. Ini skenario besar. Kalau Golkar berhasil dilemahkan di Sumut, pola yang sama akan diterapkan secara nasional. Golkar bisa tenggelam,” ujarnya.
Lebih jauh, Riza memperingatkan bahwa di bawah kepemimpinan Bahlil dan Sarmuji, Golkar berada dalam kondisi paling rawan sejak era reformasi. Ia menyebut situasi ini sebagai ancaman nyata terhadap posisi Golkar pada Pemilu mendatang.
Ia juga menuding Ahmad Doli Kurnia Tandjung memanfaatkan tekanan politik yang sedang dihadapi Bahlil dan Sarmuji untuk menyingkirkan Ijeck. Upaya tersebut, kata Riza, sudah berlangsung lama sejak Musda ulang Golkar Sumut 2020, ketika Ijeck kembali terpilih sebagai ketua.
“Sejak Musda 2020, Doli terus berupaya menyingkirkan Ijeck. Selalu gagal. Baru sekarang muncul momentum politik untuk mengeksekusinya,” ujar Riza.
“Dengan memecat Ijeck, mereka bertiga berkonspirasi mengkhianati kepentingan Golkar di Sumut,” sambungnya.
Tak berhenti di situ, Riza mendesak para tokoh dan sesepuh Golkar nasional—seperti Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Agung Laksono, Setya Novanto, hingga Airlangga Hartarto—untuk turun tangan menyelamatkan partai berlambang pohon beringin itu.
“Jangan anggap sepele kasus Ijeck. Apa yang terjadi di Sumut bisa menjadi preseden nasional. Jika misi ini berhasil, maka pelemahan Golkar di seluruh Indonesia hanya soal waktu,” pungkasnya.
Pernyataan keras ini menegaskan satu hal: konflik Golkar Sumut telah berubah dari persoalan daerah menjadi perang terbuka elite pusat, dengan aroma kepentingan kekuasaan nasional yang kian tajam.












