MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) akhirnya angkat bicara secara terbuka dan panjang lebar menanggapi Surat Tabayun Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar yang memantik polemik internal Nahdlatul Ulama. Isu yang disentuh tak main-main: AKN-NU, narasumber asing, dugaan afiliasi Zionisme, hingga tuduhan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
Dalam keterangan resmi yang diterima NU Online, Selasa (23/12/2025) malam, Gus Yahya menyampaikan klarifikasi tegas, sistematis, dan personal—seolah ingin memastikan bahwa publik NU tidak dibiarkan menggantung oleh tuduhan yang menurutnya tidak berdasar.
“Dengan segala hormat, saya perlu menanggapi apa yang disampaikan oleh Rais Aam,” ujar Gus Yahya, membuka pernyataannya dengan nada santun, namun sarat ketegasan.
AKN-NU dan Bantahan soal Minim Narasumber Timur Tengah
Gus Yahya menepis anggapan bahwa AKN-NU dijalankan tanpa narasumber representatif dari Timur Tengah. Ia menegaskan, jauh sebelum program dimulai, dirinya telah mengamankan sejumlah nama penting.
Di antaranya Mahmud Killic (Direktur Jenderal IRCICA-OKI dari Turki), Pemred Al-Ahram Muhammad Abu Al Fadl, Mustofa Zahran, hingga Syekh Ali Jum’ah yang bersedia hadir namun terkendala kondisi kesehatan.
“Semua sudah saya laporkan kepada Rais Aam sebelum AKN-NU dimulai, bahkan sebelum rapat gabungan Syuriyah-Tanfidziyah,” tegasnya.
Peter Berkowitz: Akademisi, Bukan Agen Ideologi
Isu paling sensitif adalah kehadiran Peter Berkowitz, profesor hukum Stanford, yang belakangan dituding terafiliasi Zionisme. Gus Yahya menyatakan, tuduhan tersebut tidak berbasis informasi publik.
Ia mengaku dua kali bertemu Berkowitz, murni dalam konteks akademik dan pemerintahan, serta telah meminta maaf secara terbuka jika terdapat kekeliruan penilaian pribadi.
“Dalam AKN-NU dan di UI, ia hanya bicara soal HAM dan demokrasi universal. Tidak ada Palestina-Israel. Rekamannya ada, bisa diperiksa,” katanya.
Gus Yahya juga menegaskan rekam jejaknya dalam membela Palestina terdokumentasi luas dan konsisten, sehingga tudingan inkonsistensi dianggap tidak adil.
Charles Holland Taylor: Jejak Panjang Sejak Gus Dur
Menjawab kecurigaan terhadap Charles Holland Taylor (Haji Muhammad Kholil), Gus Yahya menegaskan bahwa sosok ini bukan figur baru dalam jejaring NU internasional.
Taylor telah bekerja mendampingi Gus Dur sejak 2003, kemudian Gus Mus, hingga akhirnya Gus Yahya sendiri—dan tidak pernah bertindak tanpa mandat.
“Semua yang ia lakukan terkait NU sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya,” ujar Gus Yahya, lugas.
TPPU: “Mustahil Dikaitkan dengan NU”
Terkait dugaan TPPU yang menyeret nama eks Bendahara Umum PBNU Mardani Maming, Gus Yahya menyebut tuduhan tersebut amat sangat lemah, bahkan nyaris mustahil untuk dikaitkan dengan PBNU secara kelembagaan.
Ia menegaskan tidak ada keputusan organisasi yang terlibat, serta mengingatkan bahwa tuduhan pidana harus melalui proses pembuktian sah, bukan opini.
Soal data PPATK, Gus Yahya memilih tegas: tidak akan membocorkan apa pun, karena itu adalah rahasia negara.
Pertemuan dengan Rais Aam dan Jalan Buntu Dialog
Gus Yahya juga meluruskan kronologi pertemuannya dengan Rais Aam. Ia membantah pertemuan panjang tanpa jawaban, dan menegaskan bahwa dirinya telah menyerahkan dokumen keuangan dan kajian hukum tertulis.
Namun setelah itu, tak ada tindak lanjut dialog yang justru berujung pada Rapat Harian Syuriyah dan pemberhentian dirinya sebagai Ketua Umum PBNU.
“Saya menunggu panggilan lanjutan, tapi tidak pernah datang,” katanya.
Seruan Islah, Bukan Eskalasi
Di akhir pernyataannya, Gus Yahya menegaskan bahwa dirinya tidak mencari konflik, apalagi memperuncing polemik. Yang ia kehendaki hanya satu: islah demi memulihkan tatanan jam’iyah NU.
“Saya memohon ishlah binaa-an ‘alal haq, bukan ‘alal bathil. Ishlah yang memulihkan nidham jam’iyah, bukan merusaknya lebih jauh,” pungkasnya.












