MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Di tengah wajah Jakarta yang kerap diasosiasikan dengan beton, banjir, dan krisis lingkungan, RT 08 RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur justru menghadirkan cerita yang berlawanan. Bukan lewat proyek bernilai miliaran rupiah, melainkan dari gang sempit yang disulap menjadi laboratorium hidup pembangunan berkelanjutan.
RT ini mendadak menjadi magnet perhatian. Warga dari luar kota, komunitas disabilitas, yayasan sosial, hingga Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) berbondong-bondong datang. Alasannya sederhana namun “menampar”: inovasi lingkungan dan sosial justru lahir dari level paling bawah—Rukun Tetangga.
Lele di Selokan, Rupiah dari Sampah
Ketua RT 08 RW 04, Taufiq Supriadi Yusuf, menjadi motor penggerak perubahan. Melalui media sosial, ia konsisten membagikan praktik-praktik sederhana tapi visioner. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah pemanfaatan saluran air bawah tanah (u-ditch) sebagai kolam budidaya ikan lele.
U-ditch—beton berbentuk huruf U yang lazim dipakai sebagai saluran air—disulap menjadi kolam produktif. Air tetap mengalir, fungsi drainase tetap berjalan, tetapi ikan lele tumbuh dan menghasilkan nilai ekonomi. Sebuah jawaban konkret atas kritik klasik soal keterbatasan lahan di perkotaan.
Tak berhenti di situ, pengelolaan sampah menjadi agenda kolektif. Warga diajak memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik diolah menjadi kompos, sampah anorganik disalurkan ke bank sampah, dan hasilnya kembali ke warga dalam bentuk rupiah.
Lingkungan bersih, ekonomi bergerak, kesadaran tumbuh—tanpa jargon kosong.
Bukan Sekadar Gang, Tapi Ruang Belajar Publik
Inovasi itu mengubah wajah RT 08. Gang yang dulu biasa saja kini menjelma ruang belajar terbuka. Dalam tiga hari berturut-turut, wilayah ini menerima kunjungan beruntun dari berbagai pihak.
Yayasan Al Iman Cipinang Elok membawa puluhan peserta untuk mempelajari konsep living laboratory, sebuah pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis praktik nyata. Ketua yayasan, Ir. Imran, menyebut RT ini sebagai model yang layak direplikasi.
Keesokan harinya, sekitar 40 penyandang disabilitas bersama pendamping dari Precious One hadir untuk belajar tentang lingkungan yang inklusif. Ini menjadi kunjungan komunitas disabilitas pertama ke kawasan yang kini dikenal di Google Maps sebagai “Pencegah Krisis Planet”—lengkap dengan ribuan ulasan bintang lima dan simbol disabilitas.
“Kami melihat kepedulian lingkungan berjalan seiring dengan keberpihakan pada penyandang disabilitas. Ini bukan teori, tapi praktik,” ujar pendiri Precious One, Ratnawati Sutedjo.
Pusat Turun ke RT: Negara Akui Gerakan Warga
Puncaknya, Kementerian PKP turun langsung. Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan, Dr. Sri Haryati, hadir atas arahan Menteri. Ia disambut jajaran kelurahan, kecamatan, hingga Pemerintah Kota Jakarta Timur.
Apresiasi datang tanpa basa-basi.
“Kami bangga melihat SDGs dan Asta Cita diterjemahkan langsung di tingkat RT. Ini bukan proyek, ini gerakan warga. Bahkan membuktikan CSR seharusnya berdaya guna dan dirasakan langsung masyarakat,” tegas Sri Haryati.
Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik implisit terhadap pembangunan yang kerap elitis dan jauh dari warga.
Target Lebih Jauh: Swasembada Energi dan Pangan
Bagi Taufiq, sorotan publik bukan tujuan akhir. Ia menegaskan langkah selanjutnya: swasembada energi dan pangan berbasis komunitas.
“Kami akan terus belajar dan berbenah. Target kami adalah swasembada energi dan pangan di tingkat RT sebagai dukungan nyata terhadap SDGs, Asta Cita Pemerintah, dan komitmen ‘Jaga Jakarta’,” ujarnya.
Gerakan “RT 8 Bersama Tumbuh Maju” kini menjadi bukti bahwa perubahan tak harus menunggu kebijakan besar dari atas. Di saat wacana pembangunan sering terjebak seminar dan slogan, RT kecil di Jakarta Timur ini justru menunjukkan: solusi bisa dimulai dari gang sempit—asal ada keberanian, konsistensi, dan gotong royong.












