MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Penentuan awal Ramadan di Indonesia pada dasarnya adalah persoalan astronomi (hisab) dan observasi (rukyat). Sains berperan memberi data objektif tentang posisi Bulan dan Matahari, sementara keputusan keagamaan bergantung pada kriteria yang dipakai.
Berikut penjelasan ringkas dan sistematis berdasarkan data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
1️⃣ Titik Kunci Astronomi: Konjungsi
Peristiwa paling penting adalah konjungsi (ijtimak) — saat Bulan dan Matahari memiliki bujur ekliptika yang sama.
🔭 Data BMKG:
-
Konjungsi: 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB
-
Ini terjadi setelah matahari terbenam di Indonesia
Artinya saat magrib 17 Februari:
-
Hilal masih di bawah ufuk (negatif)
-
Ketinggian: sekitar -2,41° sampai -0,93°
-
Umur bulan: masih negatif (hilal belum “lahir”)
Secara astronomi murni, hilal mustahil terlihat di Indonesia pada tanggal itu.
2️⃣ Sumber Perbedaan: Kriteria, Bukan Datanya
Menurut Thomas Djamaluddin, perbedaan tahun ini bukan karena datanya samar, tetapi karena kriteria yang berbeda.
✅ Kriteria Hilal Lokal (MABIMS)
Dipakai pemerintah melalui Kementerian Agama dan mayoritas ormas.
Syarat:
-
Tinggi hilal ≥ 3°
-
Elongasi ≥ 6,4°
-
Terpenuhi di wilayah Indonesia
➡️ Karena 17 Feb belum memenuhi, Syakban diistikmalkan 30 hari
➡️ 1 Ramadan diprediksi: 19 Februari 2026
✅ Kriteria Hilal Global
Dipakai Muhammadiyah.
Prinsip:
-
Jika hilal sudah mungkin terlihat di mana pun di dunia
-
Konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru
➡️ Pada 17 Feb, visibilitas sudah mungkin di Alaska
➡️ 1 Ramadan berpotensi: 18 Februari 2026
3️⃣ Rukyat 18 Februari: Hampir Pasti Terlihat
Pada 18 Februari petang:
-
Tinggi hilal: 7,6° – 10°
-
Elongasi: 10,7° – 12,2°
-
Umur bulan: 20–23 jam
📌 Secara sains:
Hilal sangat mudah terlihat jika cuaca cerah.
4️⃣ Peran Sidang Isbat
Pemerintah tetap menggelar sidang isbat (17 Februari 2026) untuk:
-
Mengonfirmasi data hisab
-
Memadukan dengan laporan rukyat
-
Menetapkan keputusan resmi negara
🎯 Kesimpulan Sains
✔️ Tidak ada data astronomi yang salah
✔️ Perbedaan muncul dari metodologi
✔️ Sains hanya menyediakan data objektif
Dengan memahami ini, masyarakat bisa melihat bahwa perbedaan awal Ramadan adalah konsekuensi ilmiah dari perbedaan kriteria, bukan konflik antara sains dan agama.












