Pilkada Tak Lagi Dipilih Rakyat? Gerindra Dorong Kepala Daerah Dipilih DPRD

- Editorial Team

Senin, 29 Desember 2025 - 16:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekjend Gerindra, Sugiono (Sumber: Kompas)

Sekjend Gerindra, Sugiono (Sumber: Kompas)

MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Partai Gerindra secara terbuka menyatakan dukungan terhadap wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD, bukan lagi lewat pemilihan langsung oleh rakyat. Sikap ini menandai arah politik baru yang berpotensi mengubah wajah demokrasi lokal Indonesia.

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Sugiono menegaskan bahwa partainya berada di barisan pendukung penuh rencana tersebut, baik untuk pemilihan bupati, wali kota, maupun gubernur.

“Gerindra ada dalam posisi mendukung upaya ataupun rencana untuk melaksanakan pemilukada ini oleh DPRD,” ujar Sugiono, Senin (29/12/2025).

Gerindra mengemukakan alasan utama: biaya pilkada langsung yang kian membengkak dan dinilai tidak efisien. Sugiono menyebut, ongkos pilkada telah menjadi beban besar APBD dan negara.

Ia mengungkapkan, pada 2015, dana hibah pilkada dari APBD hampir Rp 7 triliun. Namun angka itu melonjak drastis pada 2024, menembus lebih dari Rp 37 triliun.

“Itu jumlah yang bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif, untuk peningkatan kesejahteraan dan ekonomi rakyat,” kata Sugiono.

Menurut Gerindra, pilkada melalui DPRD dinilai memangkas banyak lapisan biaya: dari penjaringan kandidat, mekanisme pemilihan, durasi proses, hingga ongkos politik.

Tak hanya soal anggaran negara, Sugiono menyoroti mahalnya biaya kampanye yang harus ditanggung calon kepala daerah. Ia menyebut, kondisi tersebut kerap menjadi penghalang bagi figur berkualitas untuk maju.

“Biaya kampanye itu prohibitif. Mahal. Ini harus dievaluasi supaya orang-orang yang benar-benar mampu mengabdi tidak terhalang oleh biaya politik yang luar biasa,” tegasnya.

Narasi ini menempatkan pilkada via DPRD sebagai jalan pintas untuk menyelamatkan demokrasi dari politik uang, meski di sisi lain justru memantik kritik soal kedaulatan rakyat.

Menjawab kekhawatiran publik, Sugiono menegaskan bahwa pemilihan melalui DPRD tidak menghapus esensi demokrasi. Ia berargumen, anggota DPRD adalah hasil pilihan rakyat dalam pemilu legislatif.

“Akuntabilitasnya justru bisa lebih ketat. Partai politik harus mendengar kehendak konstituennya jika ingin tetap bertahan,” ujarnya.

Selain itu, mekanisme ini dinilai mampu meredam polarisasi sosial yang kerap muncul akibat pilkada langsung, terutama di daerah rawan konflik.

Namun Sugiono mengingatkan, jika wacana ini dibahas lebih lanjut, prosesnya harus terbuka dan melibatkan publik, agar tidak berubah menjadi transaksi elite.

“Jangan sampai berkembang menjadi sesuatu yang tertutup,” imbuhnya.

Wacana pilkada melalui DPRD bukanlah suara tunggal Gerindra. Presiden Prabowo Subianto dan Partai Golkar juga telah mengangkat isu serupa. Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia bahkan menyampaikan usulan itu langsung di hadapan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Alangkah lebih baik pilkada dipilih lewat DPRD saja biar tidak lagi pusing-pusing,” kata Bahlil dalam HUT ke-61 Golkar, awal Desember lalu.

Bahlil menyebut pembahasan RUU politik dapat dimulai tahun depan, meski ia mengingatkan adanya potensi uji materi di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Saya khawatir jangan sampai UU sudah jadi, sampai di MK, MK membuat norma baru lagi,” ujarnya.

Dukungan Gerindra menegaskan bahwa perubahan sistem pilkada bukan sekadar wacana, melainkan agenda serius kekuatan politik nasional. Di satu sisi, alasan efisiensi dan pengendalian biaya terdengar rasional. Namun di sisi lain, pertanyaan besar mengemuka: apakah rakyat siap kehilangan hak memilih langsung pemimpinnya?

Jika wacana ini berlanjut ke meja legislasi, Indonesia sedang berdiri di persimpangan demokrasi lokal-antara penghematan anggaran dan pengurangan peran rakyat dalam menentukan pemimpin daerahnya sendiri.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Seskab Teddy Bantah Isu Produk AS Masuk Tanpa Sertifikasi Halal
Pemerintah Pacu Ketahanan Pangan Melalui Investasi Rp 22,73 Triliun
Senjakala Taktik Ulur Waktu: Menguji Marwah KUHAP Baru di Arena Praperadilan Gus Yaqut vs KPK
Gubernur Pramono Larang Pembangunan Lapangan Padel di Zona Perumahan
Badan Gizi Nasional Klarifikasi Rincian Anggaran Makan Bergizi Gratis
Menkeu Purbaya ‘Blacklist’ dan Tagih Pengembalian Beasiswa LPDP
Komisi 3 DPR Tolak Tuntutan Mati ABK Fandi Ramadhan
Surya Paloh Tanggapi Santai Kader NasDem Pindah ke PSI: Mungkin Sudah Jenuh

Berita Terkait

Rabu, 25 Februari 2026 - 13:02 WIB

Seskab Teddy Bantah Isu Produk AS Masuk Tanpa Sertifikasi Halal

Rabu, 25 Februari 2026 - 12:39 WIB

Pemerintah Pacu Ketahanan Pangan Melalui Investasi Rp 22,73 Triliun

Selasa, 24 Februari 2026 - 21:23 WIB

Gubernur Pramono Larang Pembangunan Lapangan Padel di Zona Perumahan

Selasa, 24 Februari 2026 - 20:33 WIB

Menkeu Purbaya ‘Blacklist’ dan Tagih Pengembalian Beasiswa LPDP

Senin, 23 Februari 2026 - 13:40 WIB

Komisi 3 DPR Tolak Tuntutan Mati ABK Fandi Ramadhan

Sabtu, 21 Februari 2026 - 06:24 WIB

Low Tuck Kwong Pinang Lukisan Karya SBY Senilai Rp6,5 Miliar

Jumat, 20 Februari 2026 - 23:14 WIB

Survei Kemendikdasmen: Dampak MBG Mampu Mengurangi Gangguan Konsentrasi Belajar

Jumat, 20 Februari 2026 - 01:42 WIB

Purbaya soal Guru Honorer Gugat Anggaran MBG ke MK: Lemah, Pasti Kalah

Berita Terbaru

Bos Kartel El Mencho Tewas (Su,mber: Poros Jakarta)

Internasional

Meksiko Memanas Pasca Tewasnya Bos Kartel El Mencho

Rabu, 25 Feb 2026 - 12:54 WIB