MATAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG BARAT – Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, masih bergulat dengan dampak tanah longsor yang terjadi sejak Sabtu lalu. Hingga Selasa (27/1/2026), kawasan permukiman warga dipenuhi material longsoran berupa tanah, bebatuan, dan puing rumah yang hancur diterjang pergerakan tanah akibat hujan deras berkepanjangan.
Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan berat, sebagian lainnya nyaris tertimbun sepenuhnya. Warga yang selamat tampak berupaya menyelamatkan sisa barang berharga dari reruntuhan rumah mereka. Salah satunya Ahmad Rohimat (30), yang terlihat mengais puing-puing rumahnya demi menyelamatkan barang penting yang masih bisa digunakan.
Longsor dipicu curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Bandung Barat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tanah yang jenuh air membuat lereng di kawasan permukiman menjadi tidak stabil dan akhirnya bergerak, menimbun rumah-rumah warga yang berada di bawahnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kondisi tersebut, tim penyelamat gabungan terus dikerahkan untuk melakukan pencarian terhadap korban yang diduga masih tertimbun material longsor. Petugas dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, serta relawan menyisir area terdampak dengan peralatan terbatas, memfokuskan pencarian pada titik-titik yang dicurigai menjadi lokasi korban.
Proses evakuasi berlangsung dalam situasi yang penuh risiko. Medan yang labil, tanah yang licin, serta ancaman longsor susulan memaksa petugas bekerja dengan kehati-hatian tinggi. Sisa material longsoran yang belum stabil menjadi tantangan serius, sekaligus memperlambat upaya pencarian dan evakuasi.
Meski demikian, upaya penyelamatan tidak dihentikan. Pencarian korban terus dilakukan sebagai bagian dari respons darurat bencana di Kabupaten Bandung Barat, sembari menunggu kondisi cuaca yang lebih bersahabat. Pemerintah daerah bersama tim gabungan juga terus melakukan pemantauan dan penilaian risiko untuk memastikan keselamatan petugas maupun warga terdampak.
Bencana longsor di Pasir Langu kembali menjadi pengingat rapuhnya kawasan rawan bencana saat cuaca ekstrem melanda, sekaligus menegaskan pentingnya kewaspadaan dan mitigasi di wilayah dengan kontur tanah yang rentan pergerakan.












