MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terus memperkuat kiprahnya di kancah internasional dengan menghadiri Konferensi ke-10 Association of Police Training Institution in Asia (APTA) di Ulaanbaatar, Mongolia, pada akhir Juli 2026.
Forum yang berlangsung selama lima hari ini menghadirkan lebih dari 40 delegasi dari 20 negara anggota. Para peserta berkumpul untuk merumuskan strategi kepolisian dalam menghadapi dinamika perubahan sosial dan pesatnya perkembangan teknologi digital.
Dorong Perspektif Pemolisian Modern
Dalam agenda tersebut, Polri mengutus delegasi yang terdiri dari perwira menengah senior serta akademisi sipil. Salah satu perwakilan akademisi dari STIK Lemdiklat Polri, Dr. Rangga Afianto, menekankan pentingnya keterlibatan unsur akademis untuk memperluas cakrawala pemolisian modern.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Rangga, isu kepolisian saat ini telah meluas hingga mencakup aspek sosial, budaya, teknologi, serta hubungan antara polisi dan masyarakat.
“Pendekatan Indonesia menempatkan masyarakat sebagai mitra kunci dalam menjaga kebersihan, keamanan, dan ketertiban. Hal ini diwujudkan melalui penguatan community policing (Polmas) serta keterlibatan aktif masyarakat sipil,” ujar Rangga (Sabtu, 1/8/2026).
Adaptasi AI dan Karakter Generasi Z
Salah satu fokus utama konferensi APTA ke-10 adalah evaluasi terhadap pendekatan kepolisian konvensional. Dominasi Generasi Milenial dan Generasi Z yang tumbuh di era serba digital mengubah pola komunikasi, perilaku sosial, hingga cara publik memperoleh informasi.
Selain adaptasi terhadap karakter generasi baru tersebut, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga menjadi topik krusial yang dibahas para delegasi guna menyelaraskan metode pendidikan dan pelatihan kepolisian di kawasan Asia.












