Negara Turun Tangan: 1.138 Praja IPDN Dikirim ke Aceh Tamiang, Tito Buka Blokir Anggaran Demi Selamatkan Pemerintahan Desa

- Editorial Team

Minggu, 4 Januari 2026 - 07:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri

Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri

MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Negara akhirnya turun langsung ke lapangan. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memberangkatkan 1.138 praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ke Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, untuk mempercepat pemulihan roda pemerintahan yang lumpuh akibat banjir dan tanah longsor. Langkah ini menjadi sinyal tegas: pelayanan publik tak boleh ikut tenggelam bersama bencana.

Pemberangkatan dilakukan secara bertahap dalam tiga kloter. Kloter pertama sebanyak 413 praja dilepas langsung Tito dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu (3/1/2026).

“Pada pagi hari ini kami memberangkatkan 413 kloter pertama IPDN dan ASN Kemendagri ke Aceh melalui Medan, lalu dilanjutkan perjalanan darat ke Aceh Tamiang,” ujar Tito.

Sisanya dijadwalkan berangkat Minggu (4/1/2026), dan seluruh praja dipastikan lengkap berada di lokasi pada Senin (5/1/2026).

“Totalnya 1.138. Insyaallah tanggal 5 sudah lengkap di sana,” tegas Tito.

Sekop, Cangkul, dan Pelayanan Publik

Para praja IPDN tidak dikirim sebagai simbol, melainkan pasukan pemulihan administratif. Mereka dibekali sekop dan cangkul untuk membersihkan lumpur yang menutupi kantor-kantor pemerintahan, sekaligus menghidupkan kembali layanan publik yang mati suri.

“Senjata mereka itu alat pembersih. Sekop, cangkul. Pemerintahan harus bangkit dulu,” kata Tito.

Fokus utama adalah mengaktifkan kembali lebih dari 200 unit layanan publik yang lumpuh, mulai dari Dukcapil hingga layanan desa.

“Lebih dari 200 yang belum operasional. Itu harus dihidupkan,” ujarnya.

Penugasan ini direncanakan berlangsung selama satu bulan, namun Tito membuka opsi perpanjangan bila situasi belum sepenuhnya pulih. Bahkan, praja IPDN dapat digeser ke daerah lain seperti Aceh Utara jika dibutuhkan.

Belajar di Tengah Krisis Nasional

Tito menegaskan, penerjunan praja IPDN ke wilayah bencana telah masuk dalam kurikulum resmi IPDN sebagai pembelajaran lapangan.

“Mereka akan berhadapan langsung dengan masalah nyata. Ini bukan masalah kecil, ini atensi nasional bahkan internasional,” katanya.

Dengan kata lain, krisis dijadikan ruang belajar kepemimpinan nyata, bukan sekadar teori di ruang kelas.

Anggaran Sempat Terkunci, Tito Ketuk Meja

Di balik operasi besar ini, terungkap fakta bahwa anggaran sekitar Rp 20 miliar sempat diblokir. Tito secara terbuka meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka blokir dana tersebut dalam rapat koordinasi nasional pemulihan bencana.

“Kami mohon dukungan. Anggaran IPDN ada, cuma dibintangi. Mohon dibuka. Tidak banyak, hanya Rp 20-an miliar. Tapi satu bulan sangat berarti,” ujar Tito.

Permintaan itu langsung dikabulkan.

“Bintangnya sudah dicoret barusan sama saya,” kata Purbaya, disambut tepuk tangan peserta rapat.

“Perintah komandan saja,” balas Tito singkat.

Pemerintahan Tidak Boleh Lumpuh

Langkah ini menegaskan satu pesan penting: bencana boleh merusak infrastruktur, tapi negara tidak boleh kehilangan kendali pemerintahan. Ketika kantor-kantor terendam lumpur dan layanan publik berhenti, negara memilih mengirim praja—bukan menunggu birokrasi pulih sendiri.

Aceh Tamiang kini bukan sekadar lokasi bencana, tetapi medan ujian kehadiran negara. Dan IPDN, kali ini, menjadi wajah langsung negara di tengah krisis.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

KKMSB Resmi Go Internasional: Cabang Istimewa Mekkah & Turki Dilantik
Anak Riza Chalid Dituntut 18 Tahun Penjara Kasus Korupsi Minyak Mentah
Bagaimana Sains Memprediksi Awal Ramadan 1447 H / 2026 M?
Prabowo resmikan 1.179 dapur MBG Polri, diklaim akan mampu serap puluhan ribu tenaga kerja
Pemerintah Siapkan Rp 55 Triliun untuk THR ASN, TNI, dan Polri pada 2026
Rahmawati Wardin: Silaturahmi dan Arisan Pererat Kebersamaan, TP PKK Desa Palipi Soreang Gaungkan Edukasi Cegah Perkawinan Dini
Desak RUU Perampasan Aset, Wapres Gibran: Koruptor Harus Dimiskinkan
Roy Suryo Soroti Perbedaan Salinan Ijazah Jokowi 2014-2019, Pertanyakan Proses Legalisasi

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:52 WIB

KKMSB Resmi Go Internasional: Cabang Istimewa Mekkah & Turki Dilantik

Rabu, 11 Februari 2026 - 08:14 WIB

DPRD Majene Gelar Rapat Dengar Pendapat Bersama HIPERMAKES, Soroti KLB dan Standar Higiene Dapur MBG

Senin, 9 Februari 2026 - 23:15 WIB

Pemkot Jakut, TNI–Polri Bergerak Cepat Tangani Sampah di Kolong Tol Papanggo

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:26 WIB

Masih Ada Polisi Baik: Kisah AKBP Arif Menyamar Jadi Rakyat Biasa

Sabtu, 7 Februari 2026 - 15:43 WIB

Prabowo Siapkan Lahan Strategis di Bundaran HI untuk Gedung Lembaga Umat Islam

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:49 WIB

Gempa Magnitudo 6,4 Pacitan Getarkan Yogyakarta, Warga Bunyikan Tanda Bahaya

Kamis, 5 Februari 2026 - 23:43 WIB

Penemuan Potongan Uang Kertas Sebanyak 21 Karung di TPS Bekasi

Rabu, 4 Februari 2026 - 12:45 WIB

Tewasnya Anak SD di NTT Dinilai Potret Kemiskinan dan Problem Pendidikan

Berita Terbaru

Prosesi Pelantikan Pengurus Cabang Istimewa Luar Negeri KKMSB Mekkah dan Turki

Internasional

KKMSB Resmi Go Internasional: Cabang Istimewa Mekkah & Turki Dilantik

Sabtu, 14 Feb 2026 - 21:52 WIB

RUKYATUL HILAL

Agama

Bagaimana Sains Memprediksi Awal Ramadan 1447 H / 2026 M?

Sabtu, 14 Feb 2026 - 20:48 WIB