MATAINDONESIA.CO.ID, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan jaminan bahwa pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional tetap berada dalam kondisi aman. Meskipun harga minyak dunia melonjak hingga melampaui US$ 120 per barel akibat ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga BBM subsidi. Dalam keterangannya di Jakarta (9/10), Bahlil menegaskan bahwa tantangan saat ini murni berasal dari fluktuasi harga global, bukan pada ketersediaan stok di dalam negeri.
Mitigasi Harga dan Kepastian Selama Ramadan
Pemerintah kini tengah fokus menyusun langkah mitigasi untuk menghadapi gejolak harga energi dunia yang tidak menentu. Bahlil meminta masyarakat tetap tenang dan tidak perlu mengkhawatirkan adanya perubahan harga dalam waktu dekat. Ia memberikan kepastian bahwa setidaknya hingga masa Lebaran mendatang, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi pada level saat ini. Selain itu, kementerian menjamin keandalan pasokan energi selama periode puasa dan Idulfitri, sehingga warga tidak perlu melakukan aksi borong atau panic buying.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Koordinasi Lintas Kementerian Terkait Anggaran
Lonjakan harga minyak internasional yang telah melewati asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN menjadi perhatian serius pemerintah. Untuk menyikapi hal ini, Menteri Bahlil segera menjalin komunikasi intensif dengan kementerian terkait, terutama Kementerian Keuangan. Koordinasi lintas sektoral ini bertujuan untuk merumuskan kebijakan yang tepat guna menjaga stabilitas keuangan negara tanpa memberatkan daya beli masyarakat di tengah tingginya harga komoditas energi dunia.
Ketahanan Stok Nasional dan Pengawasan Jalur Strategis
Saat ini, Kementerian ESDM bersama PT Pertamina (Persero) mengamankan stok BBM nasional pada level 20 hingga 23 hari konsumsi. Angka ini masih berada dalam batas aman sesuai standar operasional logistik energi Indonesia. Meski posisi stok relatif stabil, pemerintah terus memonitor secara ketat situasi konflik di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz. Jalur strategis yang melayani sekitar 20% perdagangan minyak dunia tersebut menjadi titik krusial yang dapat memicu volatilitas harga internasional jika eskalasi terus meningkat.












