MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal di kawasan Jakarta Pusat pada Kamis (12/3) malam. Serangan tersebut mengakibatkan korban mengalami luka bakar serius di sejumlah bagian tubuh.
Peristiwa terjadi tidak lama setelah Andrie menghadiri kegiatan podcast bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” yang digelar di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia sekitar pukul 23.00 WIB.
Luka Bakar 24 Persen
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, dalam keterangan tertulis menyatakan korban mengalami luka bakar cukup serius akibat serangan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut hasil pemeriksaan medis, Andrie menderita luka bakar sekitar 24 persen pada tubuhnya.
“Korban mengalami luka serius pada area tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta bagian mata,” ujar Dimas.
Usai kejadian, Andrie langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Dua Pelaku Gunakan Sepeda Motor
Berdasarkan informasi yang dihimpun KontraS, pelaku diduga berjumlah dua orang yang berboncengan menggunakan sepeda motor.
Keduanya diduga menggunakan motor jenis Honda Beat keluaran tahun 2016–2021. Pelaku menghampiri korban dengan melawan arah di sekitar Jalan Talang (Jembatan Talang).
Salah satu pelaku disebut mengenakan pakaian kombinasi putih-biru dengan celana gelap yang diduga jeans. Sementara pelaku lainnya memakai penutup wajah atau masker jenis buf hitam yang menutupi sebagian wajah, kaos biru tua, dan celana panjang biru yang digulung.
Saat mendekati korban, salah satu pelaku langsung menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah Andrie.
“Korban langsung berteriak kesakitan hingga menjatuhkan motornya,” ungkap Dimas.
Diduga Upaya Membungkam Aktivis
KontraS menilai serangan tersebut berpotensi berkaitan dengan aktivitas advokasi yang dilakukan korban sebagai pembela hak asasi manusia.
Menurut Dimas, penyiraman air keras ini diduga sebagai bentuk upaya pembungkaman terhadap suara kritis masyarakat, khususnya para aktivis HAM.
Polri Lakukan Penyelidikan
Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia menyatakan telah melakukan penyelidikan awal atas kasus tersebut.
Kepala Divisi Humas Polri, Johnny Eddizon Isir, mengatakan aparat telah melakukan olah tempat kejadian perkara serta mengumpulkan bukti digital.
Polisi juga tengah menganalisis rekaman CCTV di sekitar lokasi.
“Pengumpulan berbagai alat bukti digital, termasuk CCTV, sedang dalam proses analisis lebih lanjut agar pelaku dapat segera teridentifikasi,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (13/3).
Selain itu, dua saksi yang berada di sekitar lokasi kejadian telah dimintai keterangan dan jumlah saksi kemungkinan akan bertambah.
DPR Minta Kasus Diusut Tuntas
Kasus ini juga mendapat perhatian dari parlemen. Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, mengutuk keras aksi penyiraman tersebut dan meminta aparat segera mengungkap pelaku serta motifnya.
Hal serupa disampaikan Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, yang menilai insiden itu berpotensi merusak iklim demokrasi jika benar berkaitan dengan aktivitas advokasi korban.
Kapolri Beri Atensi Khusus
Kapolri Listyo Sigit Prabowo disebut telah memberikan atensi khusus terhadap kasus ini.
Polri menegaskan akan mengusut tuntas penyerangan tersebut hingga pelaku dan pihak yang terlibat dapat diungkap.
“Akan serius dan bersungguh-sungguh membuat terang benderang kasus ini serta menangkap pelakunya, siapa pun dia,” tegas Johnny.
Peristiwa ini kembali memunculkan kekhawatiran publik terkait keamanan aktivis dan pembela HAM di Indonesia, serta pentingnya perlindungan hukum terhadap mereka yang menjalankan fungsi kontrol sosial dalam demokrasi.












