SP3 Kasus Tudingan Ijazah Jokowi Jadi Preseden Restorative Justice, DPR Dorong Penyelesaian Damai Tersangka Lain

- Editorial Team

Sabtu, 17 Januari 2026 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Habiburohman, Ketua Komisi III DPR RI

Habiburohman, Ketua Komisi III DPR RI

MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Penerbitan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis oleh Polda Metro Jaya dalam kasus dugaan fitnah ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi penanda penting arah baru penegakan hukum pidana di Indonesia. Kasus yang sempat menyita perhatian publik ini resmi dihentikan setelah para pihak menempuh mekanisme restorative justice (RJ) atau keadilan restoratif.

SP3 tersebut terbit usai Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis mengajukan permohonan penyelesaian perkara melalui jalur perdamaian. Langkah itu dinilai sejalan dengan semangat KUHP dan KUHAP baru yang secara eksplisit membuka ruang penyelesaian perkara pidana melalui pendekatan restoratif.

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menyambut baik keputusan Polda Metro Jaya tersebut dan berharap pendekatan serupa dapat diterapkan terhadap tersangka lain dalam perkara yang sama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami berharap kasus-kasus lain terkait ijazah Pak Jokowi juga bisa diselesaikan dengan RJ yang memang sangat sesuai dengan budaya kita, yakni penyelesaian masalah melalui musyawarah,” ujar Habiburokhman dalam keterangannya, Sabtu (17/1/2026).

Habiburokhman menegaskan, mekanisme keadilan restoratif kini bukan lagi wacana atau kebijakan diskresi semata, melainkan telah memperoleh landasan hukum kuat dalam sistem hukum pidana nasional.

“Berbeda dengan praktik di masa lalu, di mana RJ sulit diterapkan karena tidak diatur dalam KUHP dan KUHAP lama, sekarang jalan RJ terbuka lebar karena telah diatur secara khusus dalam KUHP dan KUHAP baru,” tegas legislator Fraksi Partai Gerindra tersebut.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri beserta jajaran yang dinilai berhasil mengimplementasikan semangat hukum progresif dalam perkara sensitif ini. Tak hanya itu, Habiburokhman turut menyampaikan penghormatan kepada semua pihak yang terlibat dalam proses perdamaian.

“Kami salut dan hormat kepada Pak Jokowi, Pak Eggi Sudjana, dan semua pihak yang dengan legowo menanggalkan ego masing-masing hingga terwujud perdamaian dan penghentian penyidikan,” ujarnya.

Menurut Habiburokhman, penyelesaian kasus ini menjadi bukti konkret bahwa hukum tidak semata-mata bertujuan menghukum, tetapi juga menghadirkan keadilan, kepastian, dan kemanfaatan bagi masyarakat.

“Penerapan keadilan restoratif dalam kasus fitnah ijazah palsu ini adalah bukti nyata KUHP dan KUHAP baru benar-benar menghadirkan keadilan dan kemanfaatan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya secara resmi mengonfirmasi telah menerbitkan SP3 terhadap Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis.

“Sudah (diterbitkan SP3),” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin, Jumat (16/1/2026).

Iman menjelaskan, keputusan penghentian penyidikan tersebut diambil karena penyidik mengakomodasi permohonan para pihak yang memilih jalur perdamaian melalui mekanisme restorative justice.

“Hukum ditegakkan dalam rangka menghadirkan rasa keadilan dan memberikan kepastian, sekaligus mewujudkan kemanfaatan hukum itu sendiri,” tegasnya.

Dalam perkara dugaan fitnah ijazah palsu Jokowi, Polda Metro Jaya membagi kasus ke dalam dua klaster.
Klaster pertama melibatkan lima tersangka, yakni Eggi Sudjana, Kurnia Tri Rohyani, Damai Hari Lubis, Rustam Effendi, dan Muhammad Rizal Fadillah.
Sementara klaster kedua terdiri dari Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, serta Tifauziah Tyassuma alias dr Tifa.

Diketahui, sebagai bagian dari proses rekonsiliasi, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis sebelumnya secara langsung menyambangi Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, pada Kamis, 8 Januari 2026. Pertemuan tersebut menjadi titik balik penyelesaian perkara yang sempat memicu polemik hukum dan politik nasional.

Kasus ini kini dipandang sebagai preseden penting dalam praktik penegakan hukum pidana di Indonesia—bahwa konflik hukum yang sarat muatan politik dan opini publik sekalipun dapat diselesaikan secara beradab melalui jalur damai, sepanjang berlandaskan hukum dan itikad baik para pihak.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Demonstrasi BEM UI di Sudirman Diwarnai Aksi Saling Dorong, Usung 8 Tuntutan Kemerdekaan
Peringatan HUT ke-81 RI: Presiden Prabowo Pimpin Hening Cipta untuk Pahlawan dan Korban Bencana
Kasus Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras di Ancol Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya
Wajib Dikembalikan: SPPG Lalai Bakal Diinvestigasi
Prabowo Resmikan 3.395 Jembatan-3.000 Sumber Air Bersih Dibangun TNI-Polri
PERNYATAAN SIKAP LBH PP GP ANSOR Terhadap Aksi Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras
Diduga Korupsi Kuota Haji, Mantan Stafsus Menag Gus Alex Didakwa Peroleh Rp 93,6 Miliar
Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Kejagung Ekstra Hati-Hati Buka Suara

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:56 WIB

Demonstrasi BEM UI di Sudirman Diwarnai Aksi Saling Dorong, Usung 8 Tuntutan Kemerdekaan

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:53 WIB

Peringatan HUT ke-81 RI: Presiden Prabowo Pimpin Hening Cipta untuk Pahlawan dan Korban Bencana

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:00 WIB

Kasus Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras di Ancol Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya

Jumat, 14 Agustus 2026 - 18:55 WIB

Wajib Dikembalikan: SPPG Lalai Bakal Diinvestigasi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:00 WIB

PERNYATAAN SIKAP LBH PP GP ANSOR Terhadap Aksi Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:18 WIB

Diduga Korupsi Kuota Haji, Mantan Stafsus Menag Gus Alex Didakwa Peroleh Rp 93,6 Miliar

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:08 WIB

Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Kejagung Ekstra Hati-Hati Buka Suara

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:01 WIB

Kejagung Usut Kasus Korupsi MBG di BGN, 12 Saksi Termasuk Sekretaris Kepala Diperiksa

Berita Terbaru

Kepala BGN Baru (Sumber: Afu.id)

Nasional

Wajib Dikembalikan: SPPG Lalai Bakal Diinvestigasi

Jumat, 14 Agu 2026 - 18:55 WIB