Isra Miraj di Meja Fisika: Ketika Cahaya, Kuantum, dan Mukjizat Bertemu

- Editorial Team

Sabtu, 17 Januari 2026 - 22:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi AI

Ilustrasi AI

MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Peristiwa Isra Miraj selama berabad-abad ditempatkan sebagai wilayah iman—sakral, transenden, dan tak tersentuh nalar manusia. Namun di era sains modern, sebagian ilmuwan Muslim justru berani masuk lebih jauh: membaca mukjizat langit itu dengan bahasa fisika kuantum. Hasilnya mengejutkan sekaligus mengguncang cara berpikir konvensional.

Isra Miraj bukan sekadar kisah perjalanan spiritual, melainkan sebuah peristiwa fisika ekstrem yang melampaui batas pemahaman ruang dan waktu manusia.

Isra dimaknai sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa dalam satu malam. Sementara Miraj adalah fase kosmik ketika Rasulullah SAW diangkat menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, tempat perintah shalat lima waktu diturunkan. Perjalanan ini menurut logika manusia biasa, mustahil. Jarak ribuan kilometer ditempuh dalam hitungan jam, bahkan menit.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun justru di titik “kemustahilan” itulah sains modern mulai bicara.

Dalam tradisi Islam, kendaraan Nabi disebut Buraq, berasal dari kata barq yang berarti kilat. Ketua Lembaga Infokom dan Publikasi PBNU, Ishaq Zubaedi Raqib, menegaskan Buraq adalah makhluk bercahaya—dan cahaya, menurut fisika modern, memiliki kecepatan tertinggi di alam semesta: sekitar 300 ribu kilometer per detik.

Jika Buraq adalah cahaya, maka batas ruang dan waktu runtuh.

Penelitian yang dilakukan Hismatul Istiqomah (Universitas Negeri Malang) dan Muhammad Ihsan Sholeh (Universitas Negeri Jember), yang dimuat dalam Academic Journal of Islamic Studies (AJIS), melangkah lebih jauh dan berani. Mereka menafsirkan Isra Miraj melalui teori anihilasi dalam fisika kuantum—reaksi antara materi dan antimateri yang menghasilkan energi luar biasa besar.

Dalam perspektif ini, tubuh Nabi Muhammad SAW tidak “diangkut” oleh Buraq, melainkan bertransformasi menjadi energi cahaya itu sendiri.

Tubuh manusia, yang secara fisika tersusun dari atom dan partikel submikroskopis, mengalami anihilasi dengan antimateri yang direpresentasikan oleh Malaikat Jibril. Hasilnya adalah energi murni—yang oleh peneliti disebut sebagai Buraq. Secara ilmiah, energi ini sepadan dengan sinar gamma, bentuk energi tertinggi yang dikenal dalam fisika.

Di sinilah teori kesetaraan massa-energi Albert Einstein (E=mc²) menemukan relevansinya. Materi bisa berubah menjadi energi, dan energi bisa kembali menjadi materi. Maka Isra Miraj bukan sekadar perjalanan horizontal dan vertikal, tetapi transformasi eksistensial.

Setelah Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW kembali ke bentuk material, termaterialisasi kembali tanpa kehilangan identitas, kesadaran, maupun misi kenabian. Sebuah proses yang, dalam fisika, dikenal sebagai kebalikan dari anihilasi: materialisasi.

Tafsiran ini tentu tidak dimaksudkan untuk “mengilmiahkan” mukjizat secara kering, apalagi menundukkan wahyu pada laboratorium. Justru sebaliknya: sains diletakkan sebagai alat bantu untuk memahami betapa agungnya kuasa Tuhan.

Isra Miraj, dalam kacamata fisika kuantum, bukan menurunkan derajat mukjizat, melainkan meninggikan kesadaran manusia bahwa alam semesta bekerja dengan hukum yang jauh lebih kompleks daripada yang mampu dijangkau indra dan logika sehari-hari.

Pada akhirnya, Isra Miraj tetaplah mukjizat. Namun kini, mukjizat itu tidak hanya menggetarkan iman, tetapi juga mengguncang batas sains modern, seolah menantang manusia untuk terus berpikir, tanpa pernah merasa paling tahu.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Tampung Aspirasi Pegiat Budaya, DPRD Majene Dudukkan Asosiasi Sandeq Mandar dan Disbudpar
DPRD Majene Dorong Kejelasan Jadwal dan Anggaran Lomba Sandeq 2026
Safari Ramadhan Pemkab Majene: Perkuat Sinergi Program Pusat dan Daerah
Pemantauan Hilal 1 Ramadan 1447 H di Majene Sulawesi Barat
Bagaimana Sains Memprediksi Awal Ramadan 1447 H / 2026 M?
Prabowo Tegaskan Perang Tanpa Kompromi Melawan Korupsi: “Tidak Akan Mundur Setapak Pun”
Prabowo Siapkan Lahan Strategis di Bundaran HI untuk Gedung Lembaga Umat Islam
LPH Pusat Halal Insan Kamil Gelar Pelatihan Juru Sembelih Halal di Pangkep

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:56 WIB

Demonstrasi BEM UI di Sudirman Diwarnai Aksi Saling Dorong, Usung 8 Tuntutan Kemerdekaan

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:53 WIB

Peringatan HUT ke-81 RI: Presiden Prabowo Pimpin Hening Cipta untuk Pahlawan dan Korban Bencana

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:00 WIB

Kasus Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras di Ancol Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya

Jumat, 14 Agustus 2026 - 18:55 WIB

Wajib Dikembalikan: SPPG Lalai Bakal Diinvestigasi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:00 WIB

PERNYATAAN SIKAP LBH PP GP ANSOR Terhadap Aksi Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:18 WIB

Diduga Korupsi Kuota Haji, Mantan Stafsus Menag Gus Alex Didakwa Peroleh Rp 93,6 Miliar

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:08 WIB

Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Kejagung Ekstra Hati-Hati Buka Suara

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:01 WIB

Kejagung Usut Kasus Korupsi MBG di BGN, 12 Saksi Termasuk Sekretaris Kepala Diperiksa

Berita Terbaru

Kepala BGN Baru (Sumber: Afu.id)

Nasional

Wajib Dikembalikan: SPPG Lalai Bakal Diinvestigasi

Jumat, 14 Agu 2026 - 18:55 WIB