MATAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan berani di panggung global. Dari World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Prabowo menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) Indonesia segera melampaui kapasitas produksi McDonald’s, salah satu jaringan makanan terbesar di dunia.
“Hingga tadi malam, kami telah memproduksi 59,8 juta porsi makanan setiap hari untuk anak-anak, ibu, dan lansia yang hidup sendiri,” ujar Prabowo, Kamis (22/1/2026).
Angka itu bukan sekadar statistik domestik. Prabowo secara eksplisit membandingkannya dengan McDonald’s, korporasi global yang selama puluhan tahun menjadi simbol industri pangan dunia.
“Sebagai perbandingan, dalam waktu sekitar satu bulan, kita akan melampaui angka 68 juta porsi per hari milik McDonald’s,” tegasnya.
Dari Program Sosial ke Skala Industri Global
MBG bukan sekadar program bantuan. Dalam narasi Prabowo, program ini telah menjelma menjadi operasi logistik pangan raksasa, yang dijalankan negara untuk menjangkau puluhan juta rakyat setiap hari.
Prabowo mengungkapkan, MBG mulai dirintis sejak Januari 2025, dan kini bergerak menuju target ambisius: 82,9 juta porsi makanan per hari.
Perbandingan yang ia ajukan mencolok:
McDonald’s memulai dapur pertamanya pada 1940, dan membutuhkan lebih dari lima dekade untuk mencapai produksi 68 juta porsi per hari. Indonesia, kata Prabowo, mengejar—bahkan melampaui—angka itu dalam waktu kurang dari dua tahun.
“Kami berharap bisa mencapai 82,9 juta porsi pada akhir Desember 2026. Tapi tim saya bilang, tidak Pak, kita akan mencapainya sebelum Desember,” kata Prabowo.
Mei 2026 Jadi Titik Balik
Target itu bukan sekadar optimisme politik. Prabowo menyebut, jika laju produksi saat ini konsisten, Mei 2026 berpotensi menjadi momen ketika Indonesia resmi menjadi penyedia makanan harian terbesar di dunia—mengalahkan jaringan fast food global.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan arah kebijakan Prabowo: negara hadir langsung mengurus gizi rakyat, bukan menyerahkannya sepenuhnya pada mekanisme pasar.
Pesan Simbolik di Forum Dunia
Di hadapan elite ekonomi global, pernyataan Prabowo memuat pesan yang lebih dalam:
Indonesia tidak hanya berbicara soal pertumbuhan, tetapi ketahanan manusia, gizi, dan keadilan sosial—dengan skala yang bahkan menyaingi korporasi multinasional.
MBG kini bukan lagi sekadar program nasional.
Ia telah berubah menjadi simbol ambisi negara, bahwa urusan perut rakyat bisa dikelola lebih masif dari bisnis global.












