Dissenting Opinion Dua Hakim MK Dalam Putusan UU Polri: Norma Dianggap Konstitusional, Persoalan Utama di Implementasi

- Editorial Team

Kamis, 20 November 2025 - 03:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua Hakim MK (Guntur Hamzah dan Daniel Yusmic)

Dua Hakim MK (Guntur Hamzah dan Daniel Yusmic)

MataIndonesia-Jakarta. Mahkamah Konstitusi (MK) pada 13 November 2025 membacakan Putusan Nomor 114/PUU-XXIII/2025 atas pengujian Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (UU Polri). Dalam amar putusan, MK mengabulkan seluruh permohonan dan menyatakan frasa “atau tidak berdasarkan penugasan dari Kapolri” dalam Penjelasan Pasal 28 ayat (3) UU Polri bertentangan dengan UUD 1945 serta tidak lagi mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Di balik putusan yang bulat pada amar tersebut, terdapat pendapat berbeda (dissenting opinion) dari dua Hakim Konstitusi, yakni Daniel Yusmic P. Foekh dan M. Guntur Hamzah. Keduanya menilai bahwa frasa penjelasan yang dibatalkan mayoritas justru masih konstitusional, sementara persoalan yang muncul selama ini lebih disebabkan oleh penyimpangan implementasi di lapangan, bukan cacat norma.

Permohonan diajukan oleh dua warga negara yang mempersoalkan konstitusionalitas Penjelasan Pasal 28 ayat (3) UU Polri, khususnya frasa “atau tidak berdasarkan penugasan dari Kapolri”. Para pemohon berargumen bahwa penjelasan tersebut membuka celah bagi anggota Polri aktif untuk menduduki jabatan di luar kepolisian tanpa alih status, sehingga menimbulkan konflik kepentingan, ketidakpastian hukum, dan potensi “dwifungsi Polri” di ranah sipil.

Mayoritas hakim kemudian mengabulkan permohonan tersebut. Dalam amar, MK menegaskan bahwa frasa yang diuji bertentangan dengan UUD 1945 dan karenanya dinyatakan tidak mengikat, serta memerintahkan pemuatan putusan dalam Berita Negara.

Inti Dissenting Opinion: Norma Sudah Jelas dan Konsisten

Berbeda dengan enam hakim lainnya, Daniel Yusmic P. Foekh dan M. Guntur Hamzah menyatakan tidak sependapat dengan pembatalan frasa dalam Penjelasan Pasal 28 ayat (3) UU Polri tersebut.

Dalam dissenting opinion, mereka terlebih dahulu menggarisbawahi bahwa para pemohon memang mempersoalkan frasa “atau tidak berdasarkan penugasan dari Kapolri” karena dianggap membuat anggota Polri aktif dapat menjalankan dua peran sekaligus penegak hukum dan pejabat di luar kepolisian yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dan pelanggaran asas kepastian hukum.

Namun kedua hakim ini menekankan bahwa Penjelasan Pasal 28 ayat (3) harus dibaca secara utuh dengan norma pokoknya. Norma pokok Pasal 28 ayat (3) UU Polri secara tegas menentukan bahwa anggota Polri baru dapat menduduki jabatan di luar kepolisian setelah mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian.

Dalam kerangka itu, frasa “jabatan di luar kepolisian” yang diperinci dalam penjelasan jabatan yang tidak mempunyai sangkut paut dengan kepolisian maupun yang tidak berdasarkan penugasan dari Kapolri menurut mereka tidak menghapus kewajiban pensiun atau mengundurkan diri lebih dahulu, tetapi justru menjelaskan cakupan jenis jabatan yang dimaksud. Penjelasan dan batang tubuh dipandang saling melengkapi sehingga norma menjadi koheren, jelas, dan ajek dalam perspektif asas lex scripta, lex stricta, dan lex certa.

Karena itu, menurut kedua hakim tersebut, frasa penjelasan yang diuji tidak melanggar prinsip konsistensi, koherensi, harmonisasi, maupun kepastian hukum yang adil, serta tidak menimbulkan multitafsir sepanjang tetap ditempatkan di bawah norma pokok yang mengharuskan alih status.

Penyimpangan Dianggap Sebagai Masalah Implementasi

Menanggapi maraknya praktik anggota dan perwira Polri aktif yang menduduki jabatan di luar kepolisian mulai dari kementerian, lembaga negara hingga badan-badan lain, dua hakim ini menilai bahwa fakta tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa norma penjelasan inkonstitusional.

Menurut mereka, adanya anggota Polri aktif yang tetap memegang jabatan di luar Polri tanpa lebih dulu pensiun atau mengundurkan diri merupakan persoalan implementasi dan penegakan hukum administratif, bukan masalah konstitusionalitas norma Penjelasan Pasal 28 ayat (3) itu sendiri.

Dalam pertimbangan akhirnya, Daniel dan Guntur secara tegas menyatakan bahwa uji materi terhadap frasa “tidak berdasarkan penugasan dari Kapolri” “bukan persoalan mengenai konstitusionalitas norma, akan tetapi lebih merupakan persoalan implementasi norma” dan karena itu permohonan para pemohon seharusnya ditolak karena tidak beralasan menurut hukum (wordt ongegrond verklaard).

Seruan Pembenahan Melalui Reformasi Polri dan Legislasi

Meski menilai norma masih konstitusional, dissenting opinion Daniel Yusmic dan M. Guntur Hamzah tetap mengakui bahwa praktik di lapangan memperlihatkan kebutuhan mendesak untuk membenahi tata kelola penugasan anggota Polri di luar struktur kepolisian.

Mereka mencatat bahwa Presiden telah membentuk Komisi Percepatan Reformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 122/P Tahun 2025. Komisi ini dipandang dapat menjadi sarana penting untuk mempercepat reformasi Polri dari aspek substansi, struktur, maupun kultur hukum demi memulihkan kepercayaan publik dan memperkuat tugas Polri untuk melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum sesuai Pasal 30 ayat (4) UUD 1945.

Dalam konteks tersebut, kedua hakim mengusulkan agar pengaturan mengenai jabatan di luar kepolisian untuk anggota/pwira Polri diatur secara limitatif dalam batang tubuh undang-undang, dengan membedakan secara tegas, jabatan apa saja yang masih dapat diduduki melalui penugasan, dan jabatan apa yang wajib mengharuskan pengunduran diri atau pensiun terlebih dahulu.

Mereka menilai langkah legislasi ini akan lebih sejalan dengan desain politik hukum pembentuk undang-undang, tantangan tugas kepolisian saat ini dan ke depan, serta prinsip-prinsip konstitusionalisme Indonesia.

Signifikansi Politik Hukum: Putusan Dikabulkan, Perdebatan Tetap Terbuka

Putusan MK 114/PUU-XXIII/2025 secara formal membatalkan frasa kunci dalam Penjelasan Pasal 28 ayat (3) UU Polri, sehingga menghapus dasar hukum yang selama ini dituding membuka jalan bagi rangkap jabatan anggota Polri aktif di ranah sipil.

Namun, dissenting opinion dua hakim konstitusi menunjukkan bahwa di dalam MK sendiri masih ada pandangan kuat yang menilai norma yang dibatalkan itu sebenarnya sudah cukup jelas dan konstitusional apabila dibaca secara sistematis bersama batang tubuh pasal, serta bahwa akar masalah justru berada pada penegakan aturan dan desain kelembagaan.

Perbedaan pandangan ini penting dicermati publik, pembentuk undang-undang, dan pemangku kepentingan reformasi sektor keamanan. Di satu sisi, putusan mayoritas MK memberi dasar baru untuk memperketat larangan rangkap jabatan anggota Polri aktif. Di sisi lain, dissenting opinion menegaskan bahwa reformasi Polri dan pembenahan regulasi teknis tetap diperlukan agar praktik di lapangan sejalan dengan semangat negara hukum dan netralitas aparat penegak hukum.

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

KKMSB Resmi Go Internasional: Cabang Istimewa Mekkah & Turki Dilantik
Rahmawati Wardin: Silaturahmi dan Arisan Pererat Kebersamaan, TP PKK Desa Palipi Soreang Gaungkan Edukasi Cegah Perkawinan Dini
DPRD Majene Gelar Rapat Dengar Pendapat Bersama HIPERMAKES, Soroti KLB dan Standar Higiene Dapur MBG
Pemkot Jakut, TNI–Polri Bergerak Cepat Tangani Sampah di Kolong Tol Papanggo
Masih Ada Polisi Baik: Kisah AKBP Arif Menyamar Jadi Rakyat Biasa
Prabowo Siapkan Lahan Strategis di Bundaran HI untuk Gedung Lembaga Umat Islam
Gempa Magnitudo 6,4 Pacitan Getarkan Yogyakarta, Warga Bunyikan Tanda Bahaya
Penemuan Potongan Uang Kertas Sebanyak 21 Karung di TPS Bekasi

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:52 WIB

KKMSB Resmi Go Internasional: Cabang Istimewa Mekkah & Turki Dilantik

Rabu, 11 Februari 2026 - 08:14 WIB

DPRD Majene Gelar Rapat Dengar Pendapat Bersama HIPERMAKES, Soroti KLB dan Standar Higiene Dapur MBG

Senin, 9 Februari 2026 - 23:15 WIB

Pemkot Jakut, TNI–Polri Bergerak Cepat Tangani Sampah di Kolong Tol Papanggo

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:26 WIB

Masih Ada Polisi Baik: Kisah AKBP Arif Menyamar Jadi Rakyat Biasa

Sabtu, 7 Februari 2026 - 15:43 WIB

Prabowo Siapkan Lahan Strategis di Bundaran HI untuk Gedung Lembaga Umat Islam

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:49 WIB

Gempa Magnitudo 6,4 Pacitan Getarkan Yogyakarta, Warga Bunyikan Tanda Bahaya

Kamis, 5 Februari 2026 - 23:43 WIB

Penemuan Potongan Uang Kertas Sebanyak 21 Karung di TPS Bekasi

Rabu, 4 Februari 2026 - 12:45 WIB

Tewasnya Anak SD di NTT Dinilai Potret Kemiskinan dan Problem Pendidikan

Berita Terbaru

Prosesi Pelantikan Pengurus Cabang Istimewa Luar Negeri KKMSB Mekkah dan Turki

Internasional

KKMSB Resmi Go Internasional: Cabang Istimewa Mekkah & Turki Dilantik

Sabtu, 14 Feb 2026 - 21:52 WIB

RUKYATUL HILAL

Agama

Bagaimana Sains Memprediksi Awal Ramadan 1447 H / 2026 M?

Sabtu, 14 Feb 2026 - 20:48 WIB